Seseorang disana telah
melumpuhkan separuh sistem kerja organ tubuhku. Nyaris hidup dan kepribadianku
berubah total setelah mengenalnya. Lelaki itu bukanlah sosok yang disempurna,
tapi aku seperti melihat surga dari wajahnya.
Mungkin dia malaikat yang sengaja Tuhan kirimkan untukku. Menghapus moda masa
lalu dan menggoreskan tinta iman dalam hatiku. Kuakai bahwa dia luar biasa,
karena mampu menyita sebagian perhatianku.
Di masa lalu aku orang
yang apatis. Menggoreskan banyak noda pada orang-orang yang mengenalku. Bahkan
aku pernah membuat ibuku menangis. Hidup semauku. Seolah-olah apa yang aku
lakukan sudah benar, padahal nyaris sebagian kecewa dengan sikapku, hingga
pernah dilabrak oleh seseorang. Sungguh terlalu hina untuk kutorehkan dalam
buku catatan terakhirku.
Dia bukan sosok
sempurnan. Namun kepribadiannya membuat trombosit dalam tubuhku membeku.
Kepribadian dan akhalaknya membuka tabir yang bertahun-tahun ini tertutup.
Kuakui bahwa aku menyukainya. Melihatnya membuatku ingin menjadi wanita saleha,
hingga aku mulai mengenakan jilbab. Lalu setapak demi sejengkal, merubah sikap
dan kepribadianku yang dulu kacau dan mengikis sikap apatisku.
Keluargaku cukup kaget
melihat perubahanku. Namun dari sinilah aku mulai memahami apa mau mereka. Aku
mulai tahu kalau keluargaku mengharapkan aku seperti sekarang. Dia memberi
warna pelangi setelah mendung yang menggumpal di atap masa laluku.
Aku sering mengamatinya.
Melihat dan membayangkan. Rasa itu aku simpan rapat. Tak akan kubiarkan orang
lain tahu. Cukup aku dan Tuhan sebagai pemberi rasa, karena aku sadar diri.
Lelaki itu jauh dari jangkauanku. Seperti seekor semut mendaki gunung
Kilimanjoro. Entah kapan rasa ini akan sampai.
=>&<=
Suatu hari salah seorang
teman menasehatiku seperti ini, “laki-laki yang baik itu hanya untuk perempuan
yang baik. Kalau mengharapkan orang yang baik, maka bercerminlah dulu. Apakah
dirimu sudah baik .
Jantungku memanas. Aku
tahu maksud kalimat itu. Banyak perbedaan yang tak mungkin sama untuk sekedar
dibayangkan, hingga kau harus mengakui bahwa aku salah. Rasa minder dan malu
mulai tumbuh. Malu terhadap jilbab yang aku kenakan, dan tentu malu karena
menjadikan lelaki itu sebagai kunci perubahanku.
Sejak kalimat itu
menusuk jantungku, perlahan motivasiku untuk berubah terkikis. Merasa tidak
mungkin mendaptkan lelaki itu hanya bermodal jilbab. Merasa membodohi orang lain yangyang
berpikir aku sudah saleha.
“jangan menjadikan orang
lain sebagai alasanmu berjilbab, karena Tuhan melihat keihklasan kita, bukan
caramu berpakaian.”
Sekali lagi jantungku
memanas. Berbagai pesan pedas keluar dari mulut sahabatku. Dia memang tahu
bagaimana aku yang sesungguhnya. Aku pun mulai lelah. Apalagi laki-laki itu
mengenalku dengan baik. Menyimpan rasa yang akan membusuk, hingga suatu hari
rasa itu benar-benar membusuk.
Aku telah salah orang.
Kupikir dia malaikat yang penuh keimanan dan pandai menjaga harga dirinya, tapi
ternyata kudapati dia memiliki banyak kekurangan. Aku mulai kecewa dengan sikap
lembutnya pada semua perempuan yang ia kenal. Bergaul bebas tanpa batas.
Dia memang bukan
pangeran dari surga. Aku menyesal karena telah menyimpan rasa pada orang
seperti itu. Sikap santunnya di luar belum tentu mencrminkankebersihan hatinya.
Kudapati dia lebih suka mengobrol panjang daripada salat tepat waktu. Kupikir
dia layak menjadi imam hidupku, tapi ternyata aku salah.
=><=
Tak mudah untukku
melupakan lelaki itu. Bayang dan virus cinta masih menyerang hati dan
jantungku. Aku tak lagi mempunyai motivasi berubah setelah melihat dia seperti
itu. Rasanya ingin kulepas jilbabku dan sok soleha, karena tak ada sedetik pun
melihatku. Bahkan acuh. Namun Tuhan berkata lain. Ketikaaku hendak terjatu.
Tuhan menarik tanganku.
Entah apa yang tertulis
dalam skenario di langit sana, tapi lelaki itu terus-terusan mengusik hidupku.
Membuatku harus berlari ke masjid untuk membersihkan diri. Aku butuh tempat
berlindung dari bayangan lelaki itu. Aku tak mau berharap lagi. Cukup sakit itu
berhenti di sini. Namun apa yangsedang terjadi (tanda tanya) Tuhan lagi menulis
cerita yang tak ingin kualami.
Rasa itu kembali hadir.
Beberapa kali aku melihat dia salat di masjid. Melihat dia menyatuni fakir
miskin dan bersikap sopan kepada seorang pengemis, hingga aku mulai menyadiri
bahwa aku pun seperti dirinya. Lelaki itu membuatku bercermin. Tidak ada yang
sempurna. Setiap diri pasti salah, tapi dia berusaha memperbaiki dirinya,
karena tak kudapati dia bergaul bebas diluar sana.
“jangan menyukai
seseorang karena suatu sebab, karena kau pasti akan kecewa,”begitu kata
sahabatku.
Benar katanya. Aku pun
awalnya kecewa, namun Alllah membuka kembali tabirnya. Kini aku berusaha
menukar kekekcewaanku dengan keikhlasan. Akan kembali kubangun motivasiku untuk
berubah. Bukan karena lelaki itu, tapi karena setitik cinta yang Tuhan teteskan
pada hatiku memalui lelaki itu, dan inilah keajaiban duniaku.
Jember, 17 juli
2013-09-29
Pukul 22.39
“wanita-wanita yang keji
adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji (pula), dan
wanita-wanita yang baik dalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik
adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”.
(qs. An-nuur : 26 )
ulin nurviana , keajaiban dunia bagiku, oase keindahan kasih-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar