Minggu, 29 September 2013

setitik cinta membuka tabir surya



   Seseorang disana telah melumpuhkan separuh sistem kerja organ tubuhku. Nyaris hidup dan kepribadianku berubah total setelah mengenalnya. Lelaki itu bukanlah sosok yang disempurna, tapi aku seperti melihat surga  dari wajahnya. Mungkin dia malaikat yang sengaja Tuhan kirimkan untukku. Menghapus moda masa lalu dan menggoreskan tinta iman dalam hatiku. Kuakai bahwa dia luar biasa, karena mampu menyita sebagian perhatianku.

    Di masa lalu aku orang yang apatis. Menggoreskan banyak noda pada orang-orang yang mengenalku. Bahkan aku pernah membuat ibuku menangis. Hidup semauku. Seolah-olah apa yang aku lakukan sudah benar, padahal nyaris sebagian kecewa dengan sikapku, hingga pernah dilabrak oleh seseorang. Sungguh terlalu hina untuk kutorehkan dalam buku catatan terakhirku.

    Dia bukan sosok sempurnan. Namun kepribadiannya membuat trombosit dalam tubuhku membeku. Kepribadian dan akhalaknya membuka tabir yang bertahun-tahun ini tertutup. Kuakui bahwa aku menyukainya. Melihatnya membuatku ingin menjadi wanita saleha, hingga aku mulai mengenakan jilbab. Lalu setapak demi sejengkal, merubah sikap dan kepribadianku yang dulu kacau dan mengikis sikap apatisku.

    Keluargaku cukup kaget melihat perubahanku. Namun dari sinilah aku mulai memahami apa mau mereka. Aku mulai tahu kalau keluargaku mengharapkan aku seperti sekarang. Dia memberi warna pelangi setelah mendung yang menggumpal di atap masa laluku.

    Aku sering mengamatinya. Melihat dan membayangkan. Rasa itu aku simpan rapat. Tak akan kubiarkan orang lain tahu. Cukup aku dan Tuhan sebagai pemberi rasa, karena aku sadar diri. Lelaki itu jauh dari jangkauanku. Seperti seekor semut mendaki gunung Kilimanjoro. Entah kapan rasa ini akan sampai.
=>&<=
    Suatu hari salah seorang teman menasehatiku seperti ini, “laki-laki yang baik itu hanya untuk perempuan yang baik. Kalau mengharapkan orang yang baik, maka bercerminlah dulu. Apakah dirimu sudah baik .

     Jantungku memanas. Aku tahu maksud kalimat itu. Banyak perbedaan yang tak mungkin sama untuk sekedar dibayangkan, hingga kau harus mengakui bahwa aku salah. Rasa minder dan malu mulai tumbuh. Malu terhadap jilbab yang aku kenakan, dan tentu malu karena menjadikan lelaki itu sebagai kunci perubahanku.
 
     Sejak kalimat itu menusuk jantungku, perlahan motivasiku untuk berubah terkikis. Merasa tidak mungkin mendaptkan lelaki itu hanya bermodal  jilbab. Merasa membodohi orang lain yangyang berpikir aku sudah saleha.

“jangan menjadikan orang lain sebagai alasanmu berjilbab, karena Tuhan melihat keihklasan kita, bukan caramu berpakaian.”

    Sekali lagi jantungku memanas. Berbagai pesan pedas keluar dari mulut sahabatku. Dia memang tahu bagaimana aku yang sesungguhnya. Aku pun mulai lelah. Apalagi laki-laki itu mengenalku dengan baik. Menyimpan rasa yang akan membusuk, hingga suatu hari rasa itu benar-benar membusuk.

    Aku telah salah orang. Kupikir dia malaikat yang penuh keimanan dan pandai menjaga harga dirinya, tapi ternyata kudapati dia memiliki banyak kekurangan. Aku mulai kecewa dengan sikap lembutnya pada semua perempuan yang ia kenal. Bergaul bebas tanpa batas.

    Dia memang bukan pangeran dari surga. Aku menyesal karena telah menyimpan rasa pada orang seperti itu. Sikap santunnya di luar belum tentu mencrminkankebersihan hatinya. Kudapati dia lebih suka mengobrol panjang daripada salat tepat waktu. Kupikir dia layak menjadi imam hidupku, tapi ternyata aku salah.
=><=
     Tak mudah untukku melupakan lelaki itu. Bayang dan virus cinta masih menyerang hati dan jantungku. Aku tak lagi mempunyai motivasi berubah setelah melihat dia seperti itu. Rasanya ingin kulepas jilbabku dan sok soleha, karena tak ada sedetik pun melihatku. Bahkan acuh. Namun Tuhan berkata lain. Ketikaaku hendak terjatu. Tuhan menarik tanganku.

    Entah apa yang tertulis dalam skenario di langit sana, tapi lelaki itu terus-terusan mengusik hidupku. Membuatku harus berlari ke masjid untuk membersihkan diri. Aku butuh tempat berlindung dari bayangan lelaki itu. Aku tak mau berharap lagi. Cukup sakit itu berhenti di sini. Namun apa yangsedang terjadi (tanda tanya) Tuhan lagi menulis cerita yang tak ingin kualami.

    Rasa itu kembali hadir. Beberapa kali aku melihat dia salat di masjid. Melihat dia menyatuni fakir miskin dan bersikap sopan kepada seorang pengemis, hingga aku mulai menyadiri bahwa aku pun seperti dirinya. Lelaki itu membuatku bercermin. Tidak ada yang sempurna. Setiap diri pasti salah, tapi dia berusaha memperbaiki dirinya, karena tak kudapati dia bergaul bebas diluar sana.

“jangan menyukai seseorang karena suatu sebab, karena kau pasti akan kecewa,”begitu kata sahabatku.

   Benar katanya. Aku pun awalnya kecewa, namun Alllah membuka kembali tabirnya. Kini aku berusaha menukar kekekcewaanku dengan keikhlasan. Akan kembali kubangun motivasiku untuk berubah. Bukan karena lelaki itu, tapi karena setitik cinta yang Tuhan teteskan pada hatiku memalui lelaki itu, dan inilah keajaiban duniaku.

Jember, 17 juli 2013-09-29
Pukul 22.39

“wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik dalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”.
(qs. An-nuur : 26 )


 ulin nurviana , keajaiban dunia bagiku, oase keindahan kasih-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar